Arsip
Contoh makalah lingkungan hidup
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perhatian dunia terhadap lingkungan hidup telah diawali sejak konferensi PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm pada bulan Juni 1972. Pemerintah Indonesia sendiri menaruh perhatian yang sangat besar dalam menangani masalah lingkungan ini. Dalam bad ke-21 ini sedang terjadi perubahan-perubahan yang besar terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup yaitu semakin menipisnya sumber daya alam, berkurangnya luas ekosistem alam dan terjadinya Read more…
Contoh Resume
KETERAMPILAN MEMBACA
PENDAHULUAN
Di dalam modul I telah dibahas kedudukan keterampilan membaca di antara aspek keterampilan membaca dan berbahasa. Agar memperoleh pemahamanketerampilan membaca yang memadai dengan demikian setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat:
1. Membaca dalam hati dengan pennuh konsentrasi.
2. Membaca bersuara dengan lafal dan dengan penuh intonasi yang tepat.
3. Membaca naskah pidato dengan baik dan efektif.
4. Membaca wacana informatif dengan pemahaman yang tepat dan kecepatan yang memadai.
5. Membaca karya sastra dengan baik dan ekspresif.
Sama halnya dengan keterampilan berbahasa lainnya, keterampilan dan membaca hanya akan Anda kuasai dengan baik dengan cara banyak berlatih. Oleh karena itu, selama dan setelah mempelajari modul ini hendaknya Anda berlatih sampai Anda memiliki keterampilan yang optimal.
KEGIATAN BELAJAR I
Kemampuan Dasar Dalam Kegiatan Membaca
A. Membaca dalam hati
Dalam kehidupan kita tentu banyak melakukan aktifitas membaca seperti majalah, koran, buku dan lain-lain. Bayangkan bila ada berada di ruang tunggu atau pun pelabuhan udara, sambil mengisi waktu Anda membaca koran dengan suara yang nyaring tentu semua orang diruangan itu akan menoleh ke arah Anda dan menyangka Anda melucu atau pun justru menganggap Anda gila.
Disamping dengan membaca dalam hati, kita tidak akan mengganggu pendengaran orang lain, membaca dalam hati pun lebih cepat dibandingkan dengan membaca bersuara.
Menurut Tarigan (1993, 30 – 31) membaca bisa dibedakan menjadi 2 jenis:
1. Membaca ekstensif
2. Membaca intensif
1. Membaca wacana informatif
a. Membaca menandai
- Scanning
- Simming
b. Membaca pemahaman
- Prabaca (previewing)
- Pendugaan (predikting)
2. Membaca dengan cepat bervariasi dan menandai bahan bacaan.
3. Membuat rangkuman
B. Membaca bersuara
Membaca bersuara merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pembaca bersama-sama dengan pendengar untuk menangkap informasi dari suatu bacaan atau untuk menikmati bacaan. Selain itu, seorang pembaca nyaring dalam tulisan yang dibacanya juga pembaca nyaring yang efektif, harus memiliki kemampuan menggerakkan mata dengan cepat karena selain harus dapat membaca perkelompok kata dan bahkan perkalimat. Ia juga harus dapat memelihara kontak mata dengan pendengar.
KEGIATAN BELAJAR 2
Kemampuan Lanjut Dalam Kegiatan Membaca
A. Membaca naskah pidato
Dalam pidato ada 2 metode persiapan tertulis yaitu:
1. Melakukan persiapan dengan hanya mencatat garis besar materi yang akan kita sampaikan.
2. Kita menyiapkan naskah pidato secara lengkap.
Ada 2 hal yang harus kita perhatikan dalam membaca naskah pidato:
1. Sebelum membaca naskah pidato dengan nyaring, hendaklah naskah tersebut di pahami terlebih dahulu dengan cara membacanya dalam hati.
2. Berupaya menggunakan bahasa tubuh yang tepat terutama memelihara kontak mata dengan pendengar ketika membacakan naskah pidato.
“Memahami isi naskah dan berlatih membaca bersuara”
Pemahaman terhadap pidato sangat diperlukan agar ketika membacanya secara nyaring dapat dipilih intonasinya, tekanan dan tempo suara yang tepat, volume dan bila memungkinkan juga warna suara.
B. Membaca wacana informatif di internet
Dalam memabca atau mencari informasi melalui internet ini kecepatan membaca sangat diperlukan karena dengan cepat membaca Anda akan menghemat biaya dan untuk lebih cepat atau mudah kunjungilah warnet-warnet terdekat dan gunakan fasilitas yang ada padanya.
Penjelajahan internet:
1. Klik logo internet explorer pada windows desktop.
2. Pada internet properties yang telah di tulis yahoo atau pun yang lain Anda tinggal mengisi defaultnya ataupun yang lain-lain.
C. Membaca karya tulis
Ada 3 jenis kode yang harus kita kuasai:
1. Kode bahasa
2. Kode budaya
3. Kode sastra
MODUL 5
KETERAMPILAN MENULIS
KEGIATAN BELAJAR I
Kemampuan dasar dalam kegiatan menulis:
Seorang penulis merencanakan tulisannya, kemudian menulis, melakukan revisi kemudian tulisan selesai dan hal ini dilakukannya berulang-ulang kali.
A. Menulis Kebahasaan
1. Pemakaian kata
Contoh pemakaian kata:
- Rencana pembangunan di kawasan bandung utara kembali dipersoalkan.
- Rencana pembangunan di kawasan bandung utara kembali dipermasalahkan.
Nah dalam contoh tersebut kita dapat menilai mana kata yang cocok dan yang memadai antara keduanya walaupun memiliki arti yang sama bersinonim.
- Sinonim dan antonim
- Denotasi dan konotasi
- Kata umum dan khusus
- Kata konkret dan kata abstrak
- Kata populer dan kajian
- Kata asing dan serapan
2. Penulisan kalimat
- Unsur subjek dan prediket
- Kehematan
- Kesejajaran
- Kevariasian
- Penekanan
3. Penggunaan ejaan
a. Pemenggalan kata
Contoh:
Maaf – ma’af
Saaat – sa at
Buah – bu ah
b. Penulisan kata depan
Contoh:
Ke sawah
Dari sekolah
Kepada ortu
c. Pemakaian tanda baca
1. Pemakaian tanda koma dalam penulisan gelar akademik.
Contoh:
Muhammad Yusuf, S.H
2. Pemakaian kalimat dalam penulisan kalimat majemuk.
Contoh:
Karena nasib rakyat tidak diperhatikan,
Terjadilah krisis kepercayaan
Terhadap pemerintah
3. Pemakaian tanda titik 2 (:)
Contoh:
Sebagai berikut:
4. Penulisan tanda petik (lc …. ,”)
a. Tanda petik mengapit kalimat langsung atau petikan langsung.
b. Tanda petik dipakai untuk mengapit puisi, artikel, bab
4. Kalimat paragraf
Dalam paragraf, gagasan utama disebut juga pikiran utama atau topik utama, kemudian kalimat tersebut diikuti oleh serangkaian kalimat yang disebut kalimat penjelas yang berisi penjelasan-penjelasan.
KEGIATAN BELAJAR 2
Kemampuan lanjutan dalam kegiatan menulis:
a. Merencanakan tulisan fiksi
b. Merencanakan tulisan non fiksi
1. Pilihan topik
2. Perumusan tujuan
3. Penulisan kerangka karangan
MODUL 6
KETERAMPILAN BERBAHASA TERPADU DENGAN FOKUS MENYIMAK
KEGIATAN BELAJAR I
Keterpaduan keterampilan berbicara dengan fokus menyimak hubungan menyimak dan berbicara.
1. Suatu ujaran dapat dipelajari melalui menyimak dan meniru.
2. Seorang anak akan lebih mudah mengulang cerita yang dijamaknya dibandingkan dengan cerita yang dibacanya.
3. Seorang pembicara yang ucapan atau lafal ujarnya tidak jelas akan mempengaruhi hasil yang diperoleh penyimak.
KEGIATAN BELAJAR 2
Keterpaduan keterampilan membaca dengan fokus menyimak penelitian para ahli tentang hubungan menyimak dan membaca adalah:
1. Penguasaan kosakata yang sedikit diperoleh melalui menyimak erat kaitannya dengan kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh seseorang dalam membaca.
2. Daya simak buruk yang sangat mempengaruhi kemampuan membaca seseorang.
3. Peningkatan terhadap kemampuan penyimak akan menimbulkan peningkatan pada kemampuan yang lain.
Ahli lain mengatakan:
1. Menyimak maupun membaca menuntut adanya kesiapan kecakapan.
2. Pada umumnya maksud dan tujuan menyimak serta membaca bersifat fungsional dan apresiatif.
3. Baik dalam menyimak maupun membaca, kata bukanlah merupakan kesatuan pemahaman, tetapi mempengaruhi pemahaman terhadap frase, kalimat dan paragraf.
4. Menyimak dan membaca dapat berlangsung dalam situasi-situasi individual atau sosial.
KEGIATAN BELAJAR 3
Keterpaduan keterampilan menulis dengan fokus menyimak. Menulis hasil singkat.
Hal-hal yang harus dilakukan ketika mendengarkan atau menyimak rekaman yaitu:
1. Temukanlah gagasan pokok dan gagasan-gagasan penjelas yang terdapat dalam informasi tersebut.
2. Catatlah gagasan pokok dan gagasan penjelas yang Anda temukan itu.
3. Susunan gagasan tersebut menjadi sebuah kerangka karangan kecil.
MODUL 7
KEGIATAN BELAJAR I
Keterpaduan keterampilan menyimak dengan fokus berbicara:
a. Berbagai kegiatan keterpaduan menyimak dengan fokus berbicara
1. Menyimak dan bercerita
Ilmu matematika adalah ilmu yang menggunakan lambang bilangan khusus untuk mengelola pengertian tentang dunia. Dengan lambang bilangan, misalnya isi dunia dapat dihitung tetapi menggunakan lambang tidak hanya dilakukan oleh matematika.
Bahasa adalah lambang mengenai apa saja yang dapat ditinjau oleh cipta kuasa manusia.
2. Menyimak dan bercakap-cakap
3. Menyimak dan diskusi
KEGIATAN BELAJAR 2
Keterpaduan keterampilan menulis dengan fokus berbicara:
a. Tema yang mudah dipilih
1. Pilih yang dikuasai
2. Pilih sesuai dengan keahlian
3. Pilih yang diyakini
4. Pilih yang bersifat kritik
5. Pilih yang humor
b. Cara membatasi tema
1. Mencari aspek tema
2. Penggunaan jadwal
3. Menentukan tujuan
4. Menentukan sasaran
a. Kerangka karangan
b. Langkah-langkah menyusun kerangka
Sistem penepatan ide-ide di dalam heading dapat dilakukan dengan macam-macam cara:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Itulah contoh resume, semoga “contoh resume” diatas dapat membantu. Jika kurang tepat silahkan cari kembali contoh resume contoh resume yang lain
.
Kata Pengantar Makalah
Posting yang terdahulu adalah Contoh Kata Pengantar dan Kata Pengantar
Ayo kita lihat isi dari Kata Pengantar Makalah
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulilahirobbilalamin dan tak lupa puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkah Rahmat dan Ridho-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini kami buat guna memenuhi tugas …………………… serta untuk menambah ilmu pengetahuan. Adapun judul makalah ini adalah …………………………..
Kemudian dalam penulisan makalah ini kami banyak mendapat bantuan inspirasi dari berbagai pihak. Untuk itu tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada :
1) Bapak ………………….. selaku dosen mata …………………
2) ………………….. selaku
3) Teman-teman yang telah banyak membantu.
Selanjutnya dalam penulisan makalah ini, kami tak luput dari adanya kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini. Baik dari segi penulisan, pilihan kata, keefektifan kalimat. Untuk itu diharapkan kepada semua pihak dapat memberikan sumbangan saran, kritik yang dapat memberi cambuk bagi kami untuk kedepannya lebih baik, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.
Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk kepada kita semua, Amin Ya Robbal Alamin.
Penulis
Contoh Makalah
Download :
Kata Pengantar Makalah
Kata Pengantar
Pasting yang terdahulu, saya telah membuah sebuah posting Contoh Kata Pengantar , jika mungkin posting Contoh Kata Pengantar yang terdahulu kurang sesuai dengan contoh kata pengantar yang anda inginkan, maka berikut ini saya berikan posting kembali Contoh Kata Pengantar yang lainnya. Dengan harapan semoga Contoh kata pengantar ini sesuai dengan contoh pengantar yang anda cari / contoh kata pengantar yang anda inginkan
Mari kita lihat contoh kata pengantar di bawah ini :
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami diberi kesehatan dan kesempatan dalam menyelesaikan makalah (MATA KULIAH ANDA) yang berjudul “TULISKAN JUDUL ANDA”.
Makalah ini sangat penting karena dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam (TULISKAN SESUAI DENGAN MAKALAH ANDA). Oleh karena itu di harapkan agar yang membacanya dapat memahami dan menjadikan bahan acuan bila akan memulai suatu pengajaran yang lebih baik.
Kemudian tak lupa pula kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pembimbing mata kuliah (MATA KULIAH ANDA) Di dalam penyelesaian makalah ini, penulis mengharapkan kritik maupun saran yang membangun dari pembaca sehingga makalah ini dapat lebih disempurnakan lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Amin
NAMA KOTA, TGL-BLN-THN
Penulis
Versi Ms. Word Silahkan Download :
Kata Pengantar
Kata Pengantar 1http://www.scribd.com/embeds/56433752/content?start_page=1&view_mode=list&access_key=key-n0o177xsrk8xgsgwix7(function() { var scribd = document.createElement(“script”); scribd.type = “text/javascript”; scribd.async = true; scribd.src = “http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js”; var s = document.getElementsByTagName(“script”)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();
Marah Dalam Islam
Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan wahyu Allah SWT yang ditujukan untuk manusia, diri pribadi dan alam semesta. Al-Qur’an merupakan kitab yang sempurna, memuat berbagai aspek kehidupan manusia, baik itu berhubungan dengan aqidah, ibadah, muamalah, maupun yang berhunbungan dengan kehidupan pada umumnya seperti politik, hukum, perdamaian, perang, social dan ekonomi. Dalam kehidupan social ini manusia beraneka ragam watak pikiran serta masalah yang dihadapi, dari watak yang lembut sampai watak yang keras dalam menyelesaikan permasalahan.
Setiap jiwa manusia mengalami berbagai perubahan dan pengaruh, apabila manusia senantiasa menjalankan perintah Allah SWT dengan baik, maka akan memperoleh ketenangan dalam hidup, sebaliknya jika manusia tidak menjalankan perintah Allah SWT dapat digolongkan kedalam umat yang merugi. Sebagaimana firman Allah SWT Q.S Al-Asr ayat 1-3 yang berbunyi:
ﻮﺍ ﻠﻌﺻﺮ ﴿١﴾ ﺇ ﻦ ﺍ ﻻ ﻨﺴﺎ ﻦ ﻠﻔﻴﻰ ﺧﺴﺮ ﴿۲﴾ ﺍ ﻻ ﺍ ﻠﺬ ﻴﻦ ﺍ ﻤﻧﻮﺍ ﻮ ﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍ ﻠﺻﻠﺤﺖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺤﻖ ﻮ ﺗﻮﺍ ﺻﻮﺍ ﺒﺎ ﻠﺻﺒﺮ ﴿۳﴾
Artinya : “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar barada dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan nasihat- menasihati supaya mentaati kabenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”.
Dari ayat diatas jelaslah bahwa manusia yang merugi adalah manusia yang tidak beriman, selalu ditimpa keresahan dan kebimbangan-kebimbangan. Kemudian Allah SWT menyuruh manusia untuk saling nasihat-menasihati agar mentaati kebanaran dan bersabar.
Pada dasarnya manusia itu dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yang mempunyai empat sifat : 1) beriman 2) beramal shaleh 3) saling berwasiat kepada kebenaran dan 4) saling berwasiat kepada kesabaran. Mereka melakukan dan mengajak kebaikan kepada orang lain. Setapak pun ia takan mundur sekalipun berhadapan dengan masyaqat dan musibah didalam melaksanakan da’wah kebaikan.
Seseorang yang tidak dapat mengendalikan dan mengarahkan jiwanya, serta tidak dapat menentukan kehendak dan akalnya maka akan menimbulkan sifat marah. Ketika seseorang sedang marah, maka pasti ia tidak mampu lagi mengendalikan akal dan aktifitasnya atau bahkan tidak mampu mengendalikan ucapanya, hal ini akan membawa kepada tindakan yang tidak terkontrol atau mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena terbawa oleh emosi. Salah satu hal yang perlu diperhatikan bukanlah orang yang gagah itu orang yang paling gagah dimedan pertempuran, melainkan orang yang gagah itu adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.
Nafs amarah mengeluarkan perintah kepada jasad untuk melampiaskan kekesalan hati dengan celaan-celaan, tindakan-tindakan dan wujud kekesalan lainya tergantung pada tingkatan kemarahan dari keimanan seseorang. Sebagaimana firman Allah SWT QS Al-Imran ayat 134:
ﺍ ﻠﺬ ﻴﻦ ﻴﻧﻔﻗﻮ ﻦ ﻔﻰ ﺍ ﻠﺴﺮﺍﺀ ﻮﺍ ﻠﻀﺮﺍﺀ ﻮﺍ ﻠﻛﺎ ﻈﻤﻴﻦ ﺍ ﻠﻐﻴﻆﻮ ﺍ ﻠﻌﺎ ﻔﻴﻥ ﻋﻦ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺱ ﻮ ﺍ ﷲ ﻴﺤﺐ ﺍ ﻠﻤﺤﺴﻨﻴﻦ ﴿ﺍ ﻞﻋﻤﺮﺍ ﻦ׃١٣٤﴾
Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Berdasarkan firman Allah SWT diatas dapat dipahami bahwa menahan amarah merupakan perbuatan kebajikan, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, jika manusia tidak melaksanakan kebijakan Allah SWT dengan baik dan mempunyai iman yang lemah, akan mengakibatkan manusia menjadi marah.
Menurut Al-Maraghi: orang-orang yang menahan dan mengekang perasaan amarahnya, tidak mau melampiaskanya, sekalipun hal itu bisa saja ia lakukan. Barang siapa menuruti nafs amarah, kemudian bertekad untuk dendam, beararti ia tidak stabil lagi dan tidak mau berpegang teguh kepada kebenaran. Bahkan terkadang ia bisa melampauinya hingga kelewat batas. Oleh karena itu, dikatakan bahwa mengekang amarah termasuk taqwa kepada Allah SWT.
Di zaman yang serba penuh kompetisi ini, tekanan selalu datang bertubi-tubi. Persoalan hidup demikian pelik dan rumit, mulai dari urusan kantor, keluarga, tetangga atau saudara, masalah setiap saat menjumpai kita. Dengan demikian bara api dalam hati menjadi gampang terpanggang, tidak perlu obor, tidak perlu daun kering dan kertas, apalagi minyak tanah. Cukup sepercik api akan lansung membakar, bahkan tidak sekedar ditiup saja bara itu lansung keluar api.
Rasulallah saw bersabda:
ﻮﻋﻥ ﺍ ﺒﻰ ﻮﺍ ﺌﻞ ﺍ ﻠﻘﺎ ص ﻘﺎ ﻞ ׃ ﺪ ﺨﻠﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﺮ ﻮ ﺓ ﺒﻦ ﻤﺤﻤﺩ ﺒﻦ ﺍ ﻠﺴﺩ ﻯ ﻔﻛﻠﻤﻪ ﺮ ﺟﻞ ، ﻔﺎ ﻏﻀﺒﻪ ، ﻔﻘﺎ ﻢ ﻔﻘﻮﻀﺄ ﻔﻘﺎ ﻞ ׃ ﺤﺩ ﺛﻨﻰ ﺍ ﺒﻰ ، ﻋﻦ ﺠﺩ ﻯ ﻋﻄﻴﺔ ﻘﺎ ﻞ ׃ ﻘﺎ ﻞ ﺮﺴﻮﻞ ﺍ ﷲ ﺻﻠﻰ ﺍ ﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻮ ﺴﻠﻢ ׃ ﺍ ﻦ ﺍ ﻠﻐﻀﺐ ﻤﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ، ﻮﺍ ﻥ ﺍ ﻠﺸﻴﻄﺎ ﻦ ﺨﻠﻖ ﻤﻥ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺮ، ﻮﺍ ﻨﻤﺎ ﺘﻄﻔﺄ ﺍ ﻠﻨﺎ ﺮ ﺒﺎ ﻠﻤﺎﺀ ، ﻔﺎ ﺫﺍ ﻏﺿﺏ ﺍ ﺤﺩ ﻛﻡ ﻔﻠﻴﺘﻮ ﻀﺄ ﴿ﺮﻮﺍ ﻩ ﺍ ﺒﻮ ﺩﺍﻮﺩ﴾
Artinya : Dan dari Abu Wa’il Al-Qaash, ia berkata : kami masuk atas Marwan bin As-Sa’diy, maka seseorang berbicara dengannya, maka ia menjadi marah, maka ia berdiri lalu berwudhu’, lalu berkata : Bapakku menuturkan kepada ku dari neneknya Athiyah, ia berkata : Rasulallah s.a.w. bersabda : bahwa setan diciptakan dari api, yang dapat meredamkan api adalah air, maka kalau seseorang diantara kamu marah, maka hendaklah berwudhu’(HR. Abu Daud).
Selagi api marahnya semakin kuat berkobar, maka ia akan membuat orang menjadi buta dan tuli untuk mendengar nasihat. Sebab amarahnya sudah naik keotak dan menutupi pikiran jahatnya. Hingga mata menjadi gelap, otak pun seperti lorong goa yang sempit, yang didalamnya dinyalakan api yang berkobar-kobar, hingga semua nampak gelap penuh dengan asap, sehingga ketika amarah benar-benar sudah sampai pada puncaknya, orang lainpun bisa dibunuhnya.
Orang biasanya mudah kepada orang-orang yang berada dibawahnya, baik anak-anak, istrinya, karyawanya maupun teman-temanya juniornya tempat timbulnya marah dalam hal ini disebabkan adanya rasa percaya diri yang berlebihan dan tidak ada rasa takut sedikitpun. Inilah kesombonganya dari itu, ia bisa marah tanpa ada beban sedikitpun. Karena, walau ia marah-marah tetapi bawahanya tidak mungkin berani marah kepadanya. Krena itu, supaya tidak menjadi pemarah maka kesombongan harus dihilangkan.
Marah termasuk sifat kebinatangan yang dimiliki manusia. Dan ia merupakan hal yang alami yang terakhir dalam diri manusia atau hewan dari perasaan yang keras dan tajam terhadap yang lain. apabila seseorang menemui sesuatu yang menjadi penghalang bagi keinginanya atau bertentangan denganya, maka ia akan merasa kesempitan (susah dan kesal), seperti ia mendengar perkataan yang buruk atau tertimpa kezaliman. Lalu timbulah pada dirinya perasaan ingin membalas dendam, dan kemudian bergolaklah darahnya.. karena itu, kita menyaksikan bahwa kondisi kemudia , sebagian orang berubah mukanya, menjadi merah dan tampak denagn jelas pergerakan darah yang ada diwajahnya. Ketika itu jiwa seseorang cenderung untuk membalas dendam dan berusaha untuk melakukanya.
Kemudian mulailah ia melontarkan kata-kata yang bertentangan dengan yang sebenarnya, mencela orang lain dengan ungkapan “yang keji dan yang hina” atau menggunakan tangan dan kakinya. Dalam kondisi semacam ini ia tidak sadar apa yang ia perbuat. Inilah kondisi kebinatangan yanga tak lagi memperhatikan kebenaran. Ia ulurkan tanganya kepada kebatilan dengan pandangan seperti pandangan hewan, ketika ia berjalan beriringan dengan gejolak kemarahan, tidak ada yang ia lihat dihadapanya selain dendam, sehingga terkadang ia merobek pakaianya, melontarkan celaan kepada sesuatu yang tidak ada dihadapanya, ataupun memukul dirinya sendiri. Marah Dalam Islam
Makalah Tentang Korupsi
Makalah Tentang Korupsi
A. Latar Belakang
Islam dengan syariatnya dengan tegas dan terang mengharamkan prilaku kejahatan korupsi atau mencuri. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam bagi setiap pelaku tindak pidana pencurian dengan hukum potong tangan sebagaimana firman-Nya didalam al-Qur’an:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيم
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 38)
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam –pun bersabda: “Demi diriku yang berada ditangan-Nya, andaikan Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya akan kupotong tangannya.” (HR Ahmad, Muslim dan an-Nasa’i). Maka tidak heran jika korupsi tumbuh subur di negeri ini. salah satu faktornya ialah Hukum Yang Digunakan Untuk Menindak Dan Menangani Perkara Korupsi Bukanlah Hukum Islam yang memberi efek jera bagi pelakunya. Akan tetapi hukum Jahiliyah yang memang tidak memberikan konsekuensi jera bagi para pelaku korupsi. Syariat islam tidak diberi ruang di dalam pemberantasan korupsi di negeri ini .Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Al-Maidah: 50)
PERSPEKTIF ISLAM TENTANG ANTIKORUPSI
Didalam Islam, dikenal konsep konsep atau istilah yang sering dikitkan dengan korupsi karena ditinjau dari persfektif sebagai penghianatan atas amanah yang semestinya dipelihara ialah ghulul. Ghulul secara leksikal dimaknai “akhu al-syai’ wa dassahufi mata’ihi” yang artinya “mengembalikan sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya.”.
A. Pengantar
Dalam tulisan berikut ini akan menampilkan tentang nilai-nilai normative Islam, yaitu larangan suap, ghulul, ifsad, (berbuat kerusakan), keharusan menegakkan keadilan, meritokrasi, akuntabilitas serta transparansi, dan akan menampilkan tentang persfektif hukum Islam bagi pemberantasan korupsi. Juga akan menampilkan sekilas tentang tradisi politik Islam awal dalam pemberantasan korupsi dan praktik-praktiknya di dunia Islam saat ini dan berbagai factor yang melatarinya.
B. Hubungan Antara Agama Dan Korupsi
Dalam sebuah serial diskusi yang di gelar Divisi Budaya Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) (sekarang Center for the Study of Religion and Culture) UIN jakarta bekerjasama dengan Partnership pada tanggal 15-09-2005, Teten Masduki, seorang pejuang anti korupsi, mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara korupsi dengan agama. Alasannya adalha karena Finlandia sebagai bagian dari negara-negara skandinavia yang dnilai paling bersih didunia pada tahun 2004 misalnya adalah negara dimana masyarakatnya sekuler. Akan tetapi menurutnya, keberhasilan finlandia itu lebih terkait dengan dua faktor: pertama, political will pemerintahannya yang kuat dan kedua, karena masyarakatnya yang tidak toleran terhadap korupsi.
Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa political will dan terutama sikap toleran atau tidaknya suatu kelompok sosial terhadap tindak kejahatan tertentu semisal korupsi terkait dengan kebudayaan (sisitem kepercayaan atau nilai yang dipraktekkan). Hal ini karena sistem sosial atau tindakan berpola dari manusia terkait dengan sistem nilai yang dianutnya, termasuk didalamnya sistem kepercayaan. Kecuali sikap permisif terhadap korupsi, fenomena korupi juga diyakini banyak pihak sebagai sesuatu yang terkait dengan rendahnya integritas (kualitas etis dan moral) pejabat publik, egoisme dan keserakahan, gaya hidup materilis dan konsumeris.
Ini berarti tingginya angka korusi disuatu negara, kalau tidak berhubungan lansung dengan nilai agama, paling tidak terkit dengan pemahaman dan sikap keberagamannya. Dalam hal ini, korupsi di indonesia yang mayoritas Muslim misalnya berhubungan dengan persoalan konsep kesalehan yang dipahami masyaraktnya, kurangnya kontekstualisasi nilai-nilai agama yang sesuai dengan agenda anti korupsi, sosialisasi (pemasyarakatan)-nya, internaisasi (penghayatan) lewat lembaga pendidikan, dan institusinalisasi atau proses dimana nilai atau norma anti korupsi agama dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Muslim, Terutama di Indonesia cenderung memahami kesalehan dengan kriteria saleh secara ritual. Seorang sudah dikatakan saleh jika selalu shalat, tidak meninggalkan puasa Ramadhan, dan sekalipun meningalkannya di-qhadha’, dan menunaikan zakat. Seorang akan dinilai saleh lagi, jika sudah menunaikan ibadah haji dan banyak memberikan waqaf dan sedekah. Masyarakat kita nampaknya tidak mempersoalkan lagi dari mana datang nya uang itu, karena ukuran kesuksesan menurut umumnya mereka adalah seberapa banyak kekayaan yang telah dimiliki. Karena itu, penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN jakarta yang menemukan bahwa semakin santri, artinya adalah semakin rajin melakukan ritual Islam secara formal.
C. Korupsi Dalam Pandangan Syari`at
Islam diturunkan Allah -Subhanahu wa Ta`ala- adalah untuk dijadikan pedoman dalam menata kehidupan umat manusia, baik dalam berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Tidak ada sisi yang terapakan (tidak diatur) oleh Islam. Aturan atau konsep itu bersifat “mengikat” bagi setiap orang yang mengaku “muslim”. Konsep Islam juga bersifat totalitas dan komprihensif, tak boleh dipilah-pilah seperti yang dilakukan kebanyakan rezim sekarang ini. Mengambil sebagian dan membuang bagian lainnya, adalah sikap yang tercela dalam pandangan Islam (al-Baqoroh : 85).
Salah satu aturan Islam yang bersifat individual, adalah mencari kehidupan dari sumber-sumber yang halal. Islam mengajarkan kepada ummatnya agar dalam mencari nafkah kehidupan, hendaknya menempuh jalan yang halal dan terpuji dalam pandangan syara`. Pintu-pintu rezeki yang halal terbuka sangat luas, tidak seperti yang dibayangkan oleh banyak orang awam, bahwa dizaman modern ini pintu rezeki yang halal sudah tertutup rapat dan tak ada jalan keluar dari sumber yang haram. Anggapan ini amat keliru dan pessimistik. Tidak masuk akal, Allah memerintahkan hambaNya mencari jalan hidup yang bersih sementara pintu halal itu sendiri sudah tidak didapatkan lagi. Alasan di atas lebih merupakan hilah (dalih) untuk menjustifikasi realitas masyarakat kita yang sudah menyimpang jauh dan menghalalkan segala cara.
Dalam waktu yang sama, Allah swt melarang hambanya memakan harta/hak orang lain secara tidak sah, apakah melalui pencurian, copet, rampok, pemerasan, pemaksaan dan bentuk-bentuk lainnya. Dalam kaitan ini, Allah swt berfirman dalam al-Qur`an:
“Dan janganlah kamu makan harta sesama kamu dengan cara yang batil”. (al-Baqoroh 188, dan An-Nisa`: 29).
Larangan (nahy) dalam ayat di atas menunjukkan bahwa memakan barang atau harta orang lain, baik bersifat individu atau harta orang banyak hukumnya haram. Pelakunya diancam dengan dosa.
Korupsi ialah menyalahgunakan atau menggelapkan uang/harta kekayaan umum (negara, rakyat atau orang banyak) untuk kepentingan pribadi. Praktik korupsi biasanya dilakukan oleh pejabat yang memegang suatu jabatan pemerintah. Dalam istilah politik bahasa Arab, korupsi sering disebut ‘al-fasad’, atau ‘risywah’. Tetapi yang lebih spesifik, ialah “ikhtilas” atau “nahb al-amwal al-`ammah”.
Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa korupsi adalah pekerjaan yang diharamkan karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara tidak sah. Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi sangat tegas: haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan semesta (iqâmat al-’adâlah alijtimâ’iyyah wa al-mashlahat al-’âmmah), korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun ijmâ’ al- ‘ulamâ menunjukkan pelarangannya secara tegas (sharih).
Itulah sedikit contoh makalah tentang korupsi, mungkin posting makalah tentang korupsi ini dapat membantu anda dalam menyelesaikan tentunya tugas makalah tentang korupsi. Harapan saya posnting makalah tentang korupsi ini bermanfaat bagi Anda.
Makalah Tentang Korupsi
Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap peserta Didik Usia Remaja
1. Pengertian Nilai, Moral, dan sikap
Proses pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan bentuk sikap dan tingkah laku merupakan proses kejiwaan yang bersifat muskil. Seseorang individu yang ada waktu tertentu melakukan perbuatan tercela ternyata tidak selalu kerena ia tidak mengetahui bahwa perbuatan itu tercela, atau tidak sesuai dengan perbuatan baik dan norma sosial. Berbuat sesuatu secara fisik adalah bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Akan tetapi, di dalamnya tidak cukup sikap mental yang tidak selalu mudag ditangapi, kecuali ia tidak langsung, misalnya melalui ucapan atau perbuatan yang sangat dapat menggambarkan sikap mental tersebut.
untuk mengendalikan tingkah laku (ego) sehinga tidak bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat.
2. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja
Salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok masyarakatnya. Remaja diharapkan menggati konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskan ke dalam kode moral yang berfungsi sebagai pedoman perilakunya. Micheal mengemukakan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu sebagai berikut.
a. Pandangan moral individu makin lama menjadi lebih abstrak
b. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah
c. Penilaian moral yang semakin kognitif mendorong remaja untuk berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah yang dihadapi
d. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mudah dalam arti bahwa penilaian moral menimbulkan ketegangan emosi
Tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut.
a. Tingkat prakonvensional
Anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi hal ini semata-mata ditafsirkan darisegi sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran kebaikan), tingkat ini dapat di bagi dua tahap:
1) Tahap orientasi hukuman dan keputusan
2) Tahap orientasi relativitas-instrumental
b. Tingkat konvensional
Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinyasendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melaikan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang tua kelompok yang terlihat di dalamnya, teingkatan ini memiliki dua tahap:
1) Tahap orientasi kesempatan antara pribadi atau orientasi
2) Tahap orientasi hukuman dan keterteban
c. Tingkat pasca-konvensional (otonom/berdasarkan prinsip)
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan selepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Ada dua tehap pada tingkat ini:
1) Tahap orientasi kontrak sosial legalitas
2) Tahap orientasi prinsip etika universal
3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi anak-anak usia 12-16 tahun, gambaran ideal yang diidentifikasikan adalah orang-orang dewasa yang berwibawa atau simpatik, orang-orang terkenal, dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri.
Para sosiolog berangapan bahwa masyarakat mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempuyai sangsi-sangsi tersendiri buat si pelangar.
Teori perkembangan moral yang di kemukakan oleh Kohlberg menunjukan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi yang diperoleh dari kebiasaan danhal-hal lainyang berhubungan dengan nilaikebudayaan. Tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spotan pada masa anak-anak (Singgih Gunarsa, 1990:202). Anak memang bekembang melalui interaksi sosial tetapi interaksi ini mempunyai corak yang khusus dan faktor pribadi anak ikut berperan.
4. Implikasi Pengembangan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Perwujudan nilai, moral dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya, proses yang dilalui seseorang delam pengembangan nilai-nilai hidup tertentu adalah sebuah proses yang belum seluruhnya dipahami para ahli (Surakmad, 19980:17). Apa yang terjadi di dalam diri pribadi seseorang bhanya dapat didekati memalui cara-cara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gekala tingkah laku orang tersebut, mampu membandingkan dengan gejala serta tingkah laku orang lain. Di antara proses kejiwaan yang sulit untuk dipahami adalag proses terjelmanya nilai-nilai hidup dalam diri individu, yang mungkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual, disusul oleh penghayatan nilai tersebut, dan kemudian tumbuh dala diri seseorang sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruh jaln pikiran, tingkah lakunya, serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwarnai, tetapi juga dijiwai oleh nilai-nilai tersebut.
Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja
“Makalah tentang Emosi”
Masa remaja dikenal dengan masa strorm and, yaitu terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa “remaja” (usia 12 sampai dengan 21tahun) terdapat berapa fase (Monks, 1985), yaitu fase remaja awal (usia 12 sampai 15 tahun), remaja petengahan (15 sampai 18 tahun), remaja akhir (usia 18 sampai 21 tahun).
Adapun Cooper dan sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi, kecerdasan emosi menuntut pemilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan terpat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
a. Mengenali emosi diri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional, pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologis dan pemahaman tentang diri.
b. Mengelola emosi
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar terungkap dangan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan.
Kemampuan seseorang memotivasi diri ditelesuri malalui hal-hal berikut: a) cara mengendalikan dorongan hati, b) derajat kecerdasan yang berpengaruh terhadap unjuk rasa seseorang, c) kekuatan berfikir positif, d) optimisme, dan e) keadaan flow (mengikuti keadaan)
c. Menghadapi emosi orang lain
Empati atau mengenal emosi seseorang di bangun berdasarkan kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
d. Membina hubungan dengan orang lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.
6. Implikasi Pembangunan Emosi Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Sehubungan dengan emosi remaja yang cenderung benyak melamun dan sulit diterka maka, satu-satunya hal yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa tenggung jawab moral. Guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam perkerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga mereka menjadi lebih mudah ditangani, salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong meraka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Untuk menunjukan kematangannya, remaja terutama laki-laki sering terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa, seseorang guru SMP atau SMA akan dianggap dalam posisi otoritas. Sehingga merupakan target dari pemberontakan mereka. Cara yang paling cepat untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah: 1) mencoba untuk mengerti mereka, dan 2 melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan. Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan siswa di kelas akan dapat dikurangi.
Seorang siswa yang merasa bingung terhadap kondisi tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk rahasia-rahasia pribadinya kepada orang lain. Oleh karena itu, seseorang guru pembimbing hendaknya tampil berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik.
Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja
Pertumbuhan dan Perkembangan terhadap Pendidikan
Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut chaplin (2002) Pertumbuhan sebagai satu pertumbuhan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau dari organisme sebagai suatu keseluruhan. Sedangkan menurut A.E. Sinolungan (1997), pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif, yaitu yabg dapat dihitung atau diukur, seperti panjang, atau berat tubuh. Dan menurut Ahmad thanthowi (1993) mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari adanya perbanyakan sel-sel. perubahan secara fisiologis sebagai hasil proses pematangan fungsi dalam perjalanan waktu tertentu. Pertumbuhan dapat pula diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaan jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif berkesinambungan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme adalah sebagai berikut.
1. Faktor sebelum lahir, seperti peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, dan lain-lain.
2. Faktor pada saat kelahiran, seperti pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan efek susunan syaraf pusat karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan bantuan tang (tangver-lossing).
3. Faktor yang dialami bayi setelah lahir, seperti pengalaman traumatic pada kepala, dan lain-lain.
4. Faktor fisiologis, misalnya bayi atau anak ditinggal ibu, ayah atau kedua orang tuanya cenderung akan mengalami gangguan fisiologis.
Menurut Werner (1957), perkembangan sesuai dengan prinsip orthogenetis, yaitu perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai pada keadaan diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Sedangkan
Menurut Seifert dan Hoffnung (1994) mendefenidikan perkembangan sebagai long-term changes in a persons growt, feelings pattern of thinking, social relationship, and motor skill.
Sementara chaplin 2002, mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam fungsional (4) kedewasaan.
Menurut Reni akbar hawadi (2001), perkembangan secara luas menunjuk kepada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat, dan ciri-ciri yang baru.
Proses diferensiasi bersifat totalitas pada diri anak..
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan.
1. Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu baru sampai dewasa.
2. Foligenetik, yaitu perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang.
Bijau dan Baer (1961) mengemukakan perkembangan psikologis adalah perubahan progresif yang menunjukkan cara organisme bertingkah laku dan berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi adalah apakah suatu jawaban tingkah laku akan diperlihatkan atau tidak, bergantung pada perangsang-perangsang yang ada dilingkungannya.
Perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi empat kategori utama, yaitu perubahan dalam ukuran, perubahan dalam perbandingan, perubahan untuk mengganti hal-hal yang lama, dan perubahan untuk memperoleh hal-hal yang baru.
1. Perubahan dalam Ukuran
Perubahan dapat berbentuk ukuran panjang atau tinggi maupun berat badan. Berat badan yang semula sekitar 3 kg ketika dilahirkan menjadi 8-9 kg pada waktu umur 6 bulan. Panjang bayi 50 cm ketika dilahirkan menjadi 60 cm pada umur 1 tahun yang diikuti oleh perubahan ukuran organ-organ tubuh lain, antara lain volume otak yang menyebabkan tampilnya kemampuan.
2. Perubahan dalam Perbandingan
Perubahan secara proposional juga menjadi pada perkembangan mental. Perbandingan antara yang tidak real, khayalan dengan hal-hal yang rasional semakin lama semakin besar. Anak-anak masih suka menghayal atau berimajinasi, tetapi makin lama akan berubah sebaliknya, yakni banyak mempelajari realita dan sedikit berhayal. Perkembangan social juga sedikit demi sedikit berubah, dari bermain sendiri, bermain dengan saudara, bermain dengan anak-anak tetangga, kemudian bermain dengan anak-anak lain di lingkungan yang lebih luas.
3. Perubahan untuk Mengganti Hal-hal yang Lama
Apabila sebelumnya bahasa bayi tidak begitu jelas, seiring dengan perkembangan usianya, ia mulai berbicara cadel lalu berubah menjadi kata-kata yang lebih jelas artinya. Kebiasaan untuk merangkak ketika mengambil sesuatu akan menghilang seiring dengan meningkatnya kemampuan motorik. Pada usia kanak-kanak, gigi anak akan tanggal satu persatu dan diganti dengan gigi tetap.
4. Perubahan untuk Memperoleh Hal-hal Baru
Ketika dilahirkan, bayi belum mempunyai gigi dan beberapa waktu kemudian (kalau sudah sampai waktunya) gigi tersebut akan tumbuh. Dengan demikian, bayi memperoleh atau menambah sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada atau belum dimiliki. Menjelang usia remaja, terjadi pertumbuhan bulu-bulu ketiak, bulu-bulu sekitar alat kelamin, dan timbul kumis pada remaja laki-laki akibat mulai fungsinya kelenjar-kelenjar kelamin yang dikenal dengan istilah kelamin sekunder.
B. Pertumbuhan Fisik Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Fisik
Penyebab perubahan fisik pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endoktrin. Kelenjar pituitari yang terletak didasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang erat hubungannya dengan perubahan masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak lama sebelum saat remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan pada saat remaja semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar endokrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalamus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja dan terletak di otak.
2. Perubahan Fisik Selama Masa Remaja
Perubahan fisik selama masa remaja meliputi dua hal, yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual. Akibat percepatan pertumbuhan tersebut, terjadi perbedaan atau keanekaragaman proporsi tubuh.
3. Keragaman Perubahan Proporsi Tubuh
Pada masa kanak-kanak, bentuk tubuh tidak terlalu terlihat perbedaannya. Namun, pada akhirnya masa kanak-kanak, saat mulai memasuki tahap remaja, perbedaan bentuk tubuh antara anak laki-laki dan anak perempuan menjadi semakin jelas. Remaja laki-laki cenderung menuju ke bentuk mesomorf (cenderung menjadi anak yang kekar, berat, dan segitiga), sedangkan anak perempuan kalau tidak endomorf (cenderung menjadi gemuk dan berat) akan memperlihatkan ciri ektomorf (cenderung kurus dan bertulang panjang).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik adalah sebagai berikut:
a. Pengaruh Keluarga
b. Pengaruh Gizi
c. Gangguan Emosional
d. Jenis Kelamin
e. Status Sosial Ekonomi
f. Kesehatan
g. Pengaruh Bentuk Tubuh
C. Perkembangan Intelek Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Pengertian Intelek dan Inteligensi
Istilah intelek berarti kekuatan mental yang menyebabkan manusia dapat berpikir aktivitas yang berkenaan dengan proses berpikir atau kecakapan yang tinggi untuk berpikir. Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti:
a. kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti,
b. kecakapan mental yang besar, sangat intelligence,
c. pikiran atau inteligensi.
Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkannya memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
2. Hubungan antara Intelek dan Tingkah Laku
Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang terhadap kegiatan atau peristiwa yang tidak konkret, seperti pilihan pekerjaan, pilihan pasangan hidup, yang sebenarnya masih jauh didepannya, dan lain-lain. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya dihari depan dan corak tingkah lakunya sekarang akan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadian remaja.
Mereka dapat memikirkan perighal diri sendiri. Pemikiran ituterwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah kle penilaian diri dan kritik diri. Hasil penelitian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bukan sering terlihat usaha mereka untuk menyembunyikannya atau merahasiakannya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi akan dianggap nyata dalam pikirannya, yaitu perihal keadaan diri yang tercermin sebagai usaha yang kemungkinan terbentuk kelak dihari kemudian.
3. Karakteristik Perkembangan Intelek Remaja
Inteligensi pada masa remaja tidak mudah diukur karena perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut tidak mudah terlihat. Pada masa remaja, kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk terus bertambah. Pada awal remaja, kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut masa operasi formal (berpikir abstrak). Pada masa ini, ia telah berpikir dengan mempertimbangkan hal yang mungkin di samping hal yang nyata.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
Menurut Wechsler, IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira dan sementara karena selalu terjadi perubahan-perubahan akibat faktor individual dan situasional. Konstan tidaknya inteligensi sampai sekarang masih merupakan proses diskusi yang terbuka. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam institut Fels oleh Mc Call, dkk. (1973) menunjukkan adanya pertambahan rata-rata nilai IQ sebanyak 28 poin antara usia 5-17 tahun (kira-kira sama dengan usia pendidikan sekolah dasar). Selanjutnya, ditemukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ lebih merupaka hal yang umum dari pada perkecualian.
5. Implikasi Perkembangan Intelek Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Piaget menyebutkan bahwa sebagian besar remaja mampu memahami dan mengkaji konsep-konsep abstrak dalam batas-batas tertentu. Menurut Bruner, siswa pada usia remaja ini dapat belajar menggunakan bentuk-bentuk simbol dengan cara yang canggih. Guru dapat membantu mereka dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses (discover approach) dengfan memberi penekanan pada penguasaan konsep-konsep abstrak.
Karena siswa pada usia remaja ini masih dalam proses penyempurnaan penalaran, guru hendaknya tidak menganggap bahwa mereka berpikir dengan cara yang sama dengan guru. Untuk itu, guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengadakan diskusi secara baik serta memberikan tugas-tugas penulisan makalah. Dalam hal ini, guru hendaknya mengamati kecendrungan-kecendrungan remaja untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak tergali. Cara yang baik dalam mengatasi bentuk-bentuk pemikiran yang belum matang ialah membantu siswa menyadari bahwa mereka telah melupakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Namun, bila permasalahan tersebut merupakan masalah kompleks dengan bobot emosi yang cukup dalam, hal itu bukan tugas yang mudah.
D. Perkembangan Bakat Khusus Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Pengertian Bakat
Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan yang relatif bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut juga talent (talenta).
2. Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap individu memiliki bakat khusus yang berbeda-beda. Usaha pengenalan bakat khusus ini mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, tetapi kemudian dalam bidang pendidikan. Hampir semua ahli psikologi yang menyususn tes untuk mengungkap bakat khusus bertolak dari dasar pemikiran analisis faktor. Menurut Guilford, pada setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor-faktor khusus.
3. Hubungan antara Bakat dan Prestasi
Dengan adanya bakat, seseorang dapat mencapai prestasi dalam bidang tertentu, tetapi diperlukan latihan, pengalaman, pengetahuan, dan dorongan atau kesempatan untuk pengembangannya. Jika orang tua menyadari bahwa anaknya mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar dia mendapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, da anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, anak itu akan dapat mencapai prestasi yang unggul bahkan dapat menjadi pelukis terkenal.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat
Faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat terletap pada anak itu sendiri.
a. Anak itu sendiri, misalnya anak itu kurang berminat untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki.
b. Lingkungan anak, misalnya orang tua yang kurang mampu untuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan anak.
5. Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia
Pendidikan anak berbakat merupakan bagian integrasi pendidikan pada umumnya, dengan kekhususan memberi kesempatan maksimal bagi anak berbakat untuk berfungsi sesuai dengan potensinya, dengan harapan bahwa pada suatu saat ia akan memberi sumbangan yang maksimal bagi peningkatan kehidupan sesuai dengan aktualisasi potensinya itu. Hal itu sesuai dengan citra masyarakat yang kita anut dengan memperhatikan kaitan fungsional antara individu dan masyarakat.
b) Menulis Kreatif (mengarang)
Kehidupan imajinasi anak berbakat biasanya sangat aktif dan mengarang merupakan suatu yang biasanya gemar dilakukannya. Namun, ada anak berbakat yang minatnya cenderung ke ilmu pengetahuan alam (IPA) kadang memperoleh kesukaran dalam menyatakan dirinya, meskipun ide-idenya banyak.
Mengarang adalah suatu sarana yang dalam memperoleh keterampilan menyatakan diri. Kebimbangan memilih judul yang sesuai dapat di pancing dan diarahkan melalui:
-Gambar seseorang atau sesuatu yang diperhatikan
-Passage dalam bacaan seperti “penerbang roket mengambil tempat duduknya dalam kapsul, menunggu tanda keberangkatannya”.
c) Ilmu Pengetahuan Sosial
Pelajaran sejarah, pendidikan kewarganegaraan (PPKn), dan ilmu bumi dapat dikaitkan dengan membaca dan mempelajari berbagai bacaan. Integrasi dari kedua bacaan ini memungkinkan pendalaman suatu penguasaan yang konkret dalam kaitan dengan dengan kedua pelajaran tersebut. Juga menyuruh anak berbakat menemui beberapa tokoh tua di tempat tinggalnya untuk menanyakan peranan dalam perang kemerdekaan kits, dan memungkinkan kaitannya dengan PPKn. Suatu pameran tentang mata uang logam kuno dari negeri sendiri atau negara lain, tata cara pakaian, alat perang dan benda lain dari masa lalu serta pembangunan kini dapat menghidupkan sejarah, ilmu bumi, dan PPKn secara integral.
Kejadian aktual seperti perjuangan bangsa Asia dan Afrika, perubahan dalam sistem transportasi, penemuan baru seperti “concorde” dan sebagainya, dengan sendirinya merupakan hal-hal yang sangat menumbuhkan motivasi belajar anak berbakat.
d) IPA dan Pendidikan Kesehatan
Keterampilan proses (process skills) dalam IPA pada akhir abad ini telah digalakkan sebagai metologi IPA yang membantu anak didik mengaitkan IPA dengan dasar kehidupan. Memecahkan masalah IPA bukan lagi menghapal hukum dan aksioma saja, tetapi pengembangan aktivitas dan eksperimen yang membantu anak didik memperoleh keterampilan mengamati, megelola, meramalkan sesuatugejala, serta menilai proses tersebut. Berbagai lomba ilmiah atau seminar para ahli di bidang IPA dan Kesehatan dapat disesenggarakan.
e) Matematika
mencari jalan terpendek atau termudah dalam menyelesaikan suatu soal matematika patut dilakukan dilakukan anak berbakat. Pemahaman terhadap hubungan angka dengan membandingkan berbagai metode perkaitan, pengurangan, atau penambahan merupakan sesuatu yang menarik. Perseoalan matematika yang dikaitkan dengan cerita akan sangat melatih keterampilannya. Demikian pula, teta-teki angka banyak memberi kesempatan melatih keluwesan kemampuan berhitung.
f) Kesenian dan Bahasa
Kreativitas anak berbakat dalam berbagai jenis kesenian mendapat kesempatan berkembang dan mudah dikaitkan dengan perkembanga bahasa (umpama drama, deklamasi). Ada juga kegiatan kesenian yang secara khusus memperkaya perkembangan kesenian tertentu, seperti musik (band sekolah), melukis, membatik, dan lain-lain. Kreativitas merupakan suatu ciri khas anak bebbakat. Kreativitas ini dapat diarahkan memalui berbagai kegiatan positif dan menantang.
4) Metode belajar dan guru
Metode belajar yang paling cocok untuk anak berbakat adalah belajar melalui kelompok kecil atau individu. Apabila anak berbakat harus belajar dalam keas beser, prinsip pendekatan fullout enrichment dan akselarasi harus menjadi dasar untuk pengembangaan pada perbedaan potensinya, beberapa persyaratan yang diperlukan guru ialah memiliki inteligasi tinggi dan mempunyai minat luas dalam berbagai bidang.
6. Implasi Pengembangan Bakat Khusus Remaja terhadap Penyelengaraan pendidikan
Bagaimana kita dapat mengidentifikasi para siswa yang mempunyai bakat? Bagaimana karakteristik atau ciri-ciri mereka? Alat-alat apa yang dapat digunakan untuk mengetahui bakat-bakat khusus tersebut? Semua informasi ini dapat diperlukan sebelum dilakukan upaya pengembangan bakat-bakat khusus bagi para siswa di sekolah.
Alat ukur atau tes apa yang dipakai tentu saja bergantung pada mecam bakat yang ingin dikenali. Bagaimana orang tua dapat mengenal bakat khusus anak? Bakat anak dapat dikenali dengan melakukan observasi terhadap apa yang selalu dikerjakan dan digemari anak. Pengenalan terhadap bakat anak sangat bermanfaat bagi orang tua dan guru agar memahami dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Dengan mengenal ciri-ciri anak berbakat, orang tua dapat menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak tersebut. Selai itu, dapat membantu anak-anak dalam memahami potensi dirinya, serta tidak melihat sebagai sesuatu beban, tetapi sebagai suatu anugrah yang harus dihargai dan dikembangkan. Manfaat lain dari kemampuan orang tua untuk mengenal bakat anak ialah orang tua dapat membantu sekolah dalam penyusunan program dan prosedur pemanduan anak-anak berbakat, dengan memberi informasi yang dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka.
Sebagai contoh, orang tua memberi keterangan tentang butir-butir berikut ini:
a) Hobi dan minat anak yang khusus
b) Jenis buku yang disenangi
c) Masalah dan kebutuhan pokok
d) Prestasi yang di capai
e) Pengalaman-pengalaman khusus
f) Kegiatan kelompok yang di senangi
g) Kegiatan mandiri yang di senangi
h) Sikap anak terhadap sekolah dan guru
i) Cita-cita masa depan
Anak akan merasa aman secara psikologis apabila:
a. Guru sebagai pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan bahwa pada dasarnya semua siswa baik dan mampu
b. Guru sabagai pendidik mengusahakan suasana yang menggondisikan anak tidak merasa dinilai. Sebab, memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sabagai suatu ancaman, sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan diri
c. Pendidikan memberikan pengertian dalam arti dapat memahami pemikiran, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan milihat dari sudut pandang atau pola pikir anak. Dalam suasana seperti ini, anak-anak merasa aman untuk mengungkapkan atau mengeksresikan bakatnya.
Dengan demikian, anak akan merasakan kebebasan psikologis apabila mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain itu, pendidikan hendaknya berfungsi sebagai media pengembangan dan pembinaan bakat anak, sehingga tidak hanya semata-mata menyajikan kumpulan pengetahuan yang bersifat abstrak dan skolastik. Pengenalan bakat dan upaya pengembangannya membantu remaja untuk menentukan pilihan yang tepat dan menyiapkan dirinya untuk mencapai tujuan dan karier kehidupannya.
E. Perkembangan Hubungan Sosial Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
1. Pengertian Hubungan Sosial
Menurut knapp (1984) hubungan sosial dapat menyebabkanseseorang menjadi dekat dan merasakan kebersamaan, tetapi dapat pula menyebabkan seseorang menjadi jauh dan tersisih dari suatu hubungan interpersonal.
Kehidupan anak pada dasarnya merupakan kemampuan berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosial budayanya. Pada proses interaksi sosial ini faktor intelektual dan emosional mengambil peran yang sangat penting. Proses sosial tersebut merupakan proses sosialisasi yang menempatkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi, internalisi, dan enkulturasi. Sabab, manusia tumbuh dan berkembang di dalam konteks lingkungan sosial budaya. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan sosial memberi banyak pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak, terutama kehidupan sosiopsikologis.
Kebutuhan bergaul dan berhubungan sosial orang lain ini mulai dirasakan sejak anak berumur enam bulan. Pada saat itu, anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu, ayah, dan anggota keluarganya. Anak mulai mengenal dan mampu membedakan perilaku sosial, seperti marah, seyum, dan kasih sayang. Ia akhirnya menyadari bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain dalam memenuhi dan mempertahankan kehidupan di masyarakat.
2. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, remaja mulai memerhatikan berbagai nilai dan norma pergaulan, yang berbeda dengan norma yang berlaku di keluarganya. Ia mulai memahami nilai dan norma pergaulan dalam kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis dirasakan sangat penting, tetapi tidak mudah dilakukan. (Menurut Dacey dan Kenny, 1997) remaaja yang tetap tergantung secara emosional pada orang tuanya mungkin dirinya selalu merasa enak, mereka terlihat kurang kompeten, kurang percaya diri, kurang berhasil dalam belajar, dan bekerja dibandingkan remaja yang mencapai kebebasan emosional.
Erikson mengemukakan bahwa perkembangan remaja sampai jenjang usia dewasa melalui 8 tahapan. Perkembangan remaja berada pada tahap keenam dan ketujuh, yaitu masa menemukan jati diri dan memilih kawan akrab. Sering anak menemukan jati dirinya sesuai dengan ata berdasarkan situasi kehidupan yang mereka alami. Banya di antara mereka yang amat percaya pada kelompoknya dalam menemukan jati dirinya. Dalam hal ini, Erikson berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh pengaruh sosiokulktural. Berbeda dengan pandangan Sigmud Freud bahwa kehidupan sosial remaja (pergaulan dengan sesama remaja terutama dengan lawan jenis) didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksualnya.
Penyesuaian diri dalam kelomompok kecil yang terdiri dari pasangan remaja berbeda jenis tetap menjadi permasalahan yang cukup berat. Dalam proses penyesuaian diri, kemampuan intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian akan kekurangan dan kelebihan masing-masing dan upaya menahan sikap menonjolkan diri atau dominasi terhadap pasangannya, memerlukan tindakan intelektuak yang tepat dan kemampuan mengendalikan emosional. Dalam hal hubungan sosial yang lebih khusus, yang mengarah pada pemilihan pacar dan pasangan hidup, pertimbangan faktor agama dan suku bangsa menjadi masalah yang amat rumit. Perimbangan masalah agama dan suku bangsa ini bukan saja menjadi kepentingan masing-masing individu yang bersangkutan, tetapi juga menyangkut kepentingan keluarga dan kelompok masyarakat yang lebih beser (sesama agama atau sesama suku).
3. Faktor-faktor yang Memengaruhi perkembangan Sosial
Perkembangan sosial dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain keluarga, status sosial ekonomikeluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental, terutama emosi dan inteligensi.
1) Faktor keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangaan sosial anak. Keluarga merupakan media sosialisasi yang paling efektif bagi anak. Menurut Lamborn dan Steinderg (1993) hubungan orang tua dengan anak yang suportif memungkinkan untuk perasaan positif dan negative, yang membantu perkembangan kopetensi sosial dan otonomi yang bertanggung jawab. Sedangkan menurut Santrock (1995) remaja yang memiliki hubungan yang nyaman dan harmonis dengan orang tuanya memiliki harga diri dan kesejahteraan emosional yang lebih baik, sebaliknya, ketidakdekatan emosional dengan orang tua berhubungan dengan perasaan-perasaan akan penolakan oleh orang tua yang lebih besar serta perasaan lebih rendahnya daya tarik sosial dan romantic yang dimiliki diri sendiri. Dalam keluarga berlaku nilai dan norma kehidupanyang harus diikuti dan dipatuhi oleh anak. Sikap orang tua yang terlalu mengekang dan membatasi pergaulan akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial bagi anak-anaknya. Sebaliknya, sikap orang tua yang terlalu memberikan kebebasan bergaul menyebabkan perkembangan sosial anak-anaknya cenderung tidak terkendali.
2) Kematangan
Proses sosialisasi tentu saja memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk memberi dan menerima pandangan atau pendapat orang lain diperlukan kematangan intelektual dan emosional. Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial. Menurut Davidoff (1988) kemantangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir timbul dan bersatu dengan pembawaanya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Sedangkan menurut Chaaplin (2002) mengartikan kematangan sebagai perkembangan proses mencapai kemasakan atau usia masak, proses perkembangan yang dianggap berasal dari keturunan, atau merupakan tingakah laku khusus spesies. Dan menurut Myers (1996), mengatakan bahwa kematangan adalah biological growth processes that enable ordely in behavior, relatively uninfluenced by experience. Kemudian menurut Zigler dan Stavenson (1993), kematangan adalah the ordely physiological changes that occur in all species over time and that appear to unfold according to a genetic blueprint.
3) Status sosial ekonomi
Kehidupan sosial dipengaruha pula oleh kondisi atau sosial ekonomi kelurga. Masyarakat akan memandang seseorang anak dalam konteksnya yang utuh dengan keluarga anak itu. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan memlihatkan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya, ia akan menjaga status sosial dan ekonomikeluarganya. Hal itu mengangkibatkan anak akan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Kondisi demikian dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak-anak dari keluarga kaya akan membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.
4) Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Sebagai proses pengoperan ilmu yang normatif, pendidikan akan memberi warna terhadap kehidupan sosial anak di masa yang akan datang. Pendidikan untuk membentuk kepribadian anak agar mereka memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, siswa bukan saja dikenalkan dan ditanamkan nilai dan norma keluarga dan masyarakat, tetapi juga nilai dan norma kehidupan bangsa dan negara.
5) Kapasitas mental: emosi dan Inteligensi
Kapasitas emosi dan kemampuan berpikir memengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa, dan menyesuaikan diri terhadap kehidupan di masyarakat. Perkembangan emosi dan inteligensi berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi dan memiliki emosi stabil akan mampu memecahkan berbagai masalah hidupnya di masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan intelektual tinggi, pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hak ini akan mudah di capai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan orang lain. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil pergaulan dengan orang lain. Pemikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritisnya terhadap situasi dari orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang lain dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkannya. Sikap kritis ini juga ditunjukkandalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya,sehingga ia merasa bahwa tata cara, adat istiadat yang berlakudi lingkungan keluarga bertentangan denga sikap kritis yang tampak pada pelakunya.
Pengaruh egosentri masih sering terlihat pada pikiranremaja, karena hal berikut:
a. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalumenitikberatkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin menyebabkan kegagalan dalam menyelesaikan perseoalan.
b. Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pandapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.
Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya dapat menimbulkan reaksi lain, yaitu melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri. Mereka merasa dirinya “ampuh” atau “hebat” sehingga berani menentang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas yang mengancan pikiran atau rencana. Aktivitas yang dilakukan pada umumnya tergolong aktivitas yang membahayakan.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya semakin berkurang. Pada akhirnya masa remaja, pengaruh egosentrisitas sudah sedemikian kecilnya, sehingga ia dapat berhubungan dengan orang lain tnpa harus meremehkan pendapat dan pandangan orang lain.
5. Mengambangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Sebagai makhul sosial, remaja dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu meampilkan diri sesuai untuk dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh kerena itu, ia dituntut untuk menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Keterampilan-keterampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Keterampilan tersebut arus mulai dikembangkan sejak anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu yang cukup bagi anak-anak untuk bermai atau bercanda dengan teman-teman sebaya, memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai perkembangan anak, dan sebagainya. Dengan mengembangkan keterampilan tersebut sejak dini, anak akan mudah memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara normal dan sehat.
Berdasarkan kondisi tersebut amatlah penting bagi remaja untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek apa saja yang harus diperhatikan.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut keterampilan sosial (social skills), yaitu keluarga, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan jenis, pendidikan\sekolah, persahabatan dan solidaritas kelompok, dan lapangan kerja.
a. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga aka sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home sehinga tidak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari:
Kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding)
Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua dan saudara
Kurang mampu berkomunikasi secara sehat
Kurang mampu mandiri
Kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara
Kurang mampu berkerja sama
Kurang mampu mengadakan hubungan yang baik
Keharmonisan dalam hal ini tidaklah selalu identik dengan adanya orang tua utuh, ayah dan ibu sebab dalam banyak kasus, orang tua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan oleh orang tua adalah menciptakan suasana yang demokratis di dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua, segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya kounikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, hanya akan memunculkan berbagai konflik berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional.
b. Linkungan
Sejak dini, anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah,pekarangan) dan lingkungan sosial (tetanga), lingkungan keluarga (keluarga primer & sekunder), lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakt luas. Dengan pengenalan lingkungan sejak dini, anak sudah mengetahui bahwa diamemiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orang tua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
c. Kepribadian
Secara umum, penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, padahal sebenarnya tidak demikian kerena apa yang tampil tidak selalu mengambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini amatlah penting bagi remaja untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan tidak menarik. Di sinilah pentingnya orang tua memberikan penanaman nilai-nilai yang memghargai harkat dan mertabat orang lain tanpa mendasrkan pada hal-hal fisik, seperti materi atau penampilan.
d. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebiliknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi, seseorang akan merasa mendapat kesegaran fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capek, bosan, menoton, serta mendapatkan semagat baru.
e. Pergaulan dengan lawan jenis
Untuk menjalankan peran menurut jenis kelamin, anak dan remaja seyogianya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga maupun berkeluarga.
f. Pendidikan
Pada dasarnya, sekolah mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak. Salah satu keterampilan tersebut adalah keterampilan sosial yang dikaitkandengan car-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hal ini peran orang tua adalah menjaga agar keterampilan-keterampilan tersebut tetap dimiliki oleh anak dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembanggannya. Menurut Deutsch (1993), pendidikan merupakan salah satu konteks yang memberikan peranan penting dalam pengembangan keterampilan sosial anak dan remaja.
g. Persahabatan dan solidaritas kelompok
Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Sering remaja bahkan lebih memmentingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarga. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Dalam hal ini orang tua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Mc.Devitt dan Ormrod (2002) mendenifisikan friendship sebagai: peer relation ship that is foluntary and reciprocal and includes sareth routines and customs, sedangkan menurut Santrock (1998) mengatakan bahwa persahabatan adalah keakraban dan kesamaan.
h. Lapangan kerja
Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran di sekolah, mereka telah mengenal berbagai lapangan perkerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SLTA, mereka mendapat bimbingan kariar untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan krjadan keterampilan-keterampilan sosial yang membutuhkan, remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi akan siap untuk berkerja.
i. Meningkatkan kemampuan penyesuaian diri
Untuk menumbuhkan kemampuan penyesuaian diri, sejak anak awal diajarkan untuk lebih memahami dirinya sendiri (kelebihan dan kekurangannya) agar ia mampu mengendalikan dirinya sehingga dapat bereaksi secara wajar dan noratif. Untuk itu, tugas orang tua\pendidik adalah membekalidiri anak dengan membiasakan untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dan sebagainya. Dengan cara ini, remaja tidak akan terkejut menerima kritik atau umpan balik dari orang lain\kelompok, mudah membaur dalam kelompok dan memiliki silidaritas yang tinggi sehingga mudah diterima oleh orang lain\kelompok. Menurut Mustafa Fahmi (1977) pengertian luas tentang proses penyesuaian diri terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, yang dituntut dari individu tidak hanya mengubah kelakuanya dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan diluarnya.
6. Implikasi Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Masa remaja merupakan masa mencari jati diri sehingga ia memiliki sikap yang terlalu tinggi dalm menilai dirinya atau sebaliknya. Remaja umumnya belum memahami benar tentang nilai dan norma sosial yang berlaku dalm kehidupan mesyaraktnya. Hal itu menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi dengan sondisi yang terjadi dalam masyarakat.
Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa dan kelompok anak-anak dapat menimbulkan konflik sosial. Penciptaan kelompok sosial remaja ke arah perilaku yang bermanfaat and dapat diterima oleh masyarakat umum. Di sekolah perlu sering diadakan kegiatan bakti sosial, kelompok belajar, dan kegiatan-kegiatan lainya di bawah asuhan guru pembimbing.
Menurut Baskoro poedinoegroho E (2001), mengatakan reformasi pendidikan yang sedang diupayakan tidak akan berarti jika sikap kritis diri tidak termuat didalamnya. Tanpa landasan sikap kritis diri, reformasi pendidikan hanya sebatas retorika.
F. Perkembangan Bahasa Peserta Didik Usia Sekolah Menegah (Remaja)
1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulan atau hubungan dengan orang lain. Bahasa merupakan alat pergaulan , pengunaan bahasa menjadi efektifsejak seseorang individu berkomunikasi denga orang lain. Pada bagia ini, perkembangan bahasa dimulai dengan meniru suara atau bunyi tanpa arti dan diikuti dengan ucapan satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya. Dengan menggunaka bahasa inilah, ia berhubungan sosial sesuai dengan tingkat perilaku sosialnya.
Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, saat ia mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatkan kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik dengan cara lisan, tertulis maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami and dipahami orang lain.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Pola bahasa yang dimiliki dan dikuasai anak adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga, yang disebut bahasa ibu.
Perkembangan bahasa ibu dilengkapi dan diperkaya oleh bahasa masyarakat tempat mereka tenggal. Hal ini berarti proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bebbahasa. Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya menyebabkan bahasa remaja lebih diwarnai oleh pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok mesyarakat yang bentuknya amat khusus, seperti istilah “baceman” dikalanga pelajar yang dimaksut adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahsa prokem juga tercipta secara khusus di kalangan ramaja untuk mengunakan istilah-istilah yang lebih halus dan intelek.
3. Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan bahasa
Telah disebutkan bahwa berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu, perkembangan bahasa seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini:
a. Faktor umur
Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan usia dan pengalamanya. Faktor fisik ikut memengaruhi kerena semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, serta kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa ramaja, perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kematangan, disertai oleh perkembangan intelektual maka remaja akan mampumenunjukan cara-cara bekomunikasi yang baik dan sopan.
b. Faktor kondisi lingkungan
Lingkungan tempat anak umbuh dan berkembang memberi andil yang cukup besar terhadap kemampuan berbahasa. Penggunaan bahasa dilingkungan perkotaan berbeda dengan lingkungan pedesaan. Demikian perkembangan bahasa d daerah pantai, penggunaan, dan daerah daerah terpencil tidaklah sama, sehinggahberkembangberbagaibangsa daerah.
c. Faktor kecerdasan
Untuk meniru bunyi suara, dan mengenal simbol-simbol bahasa diperlukan kemampuan motorik dan intelektual yang baik. Kemampuan motorik berkolerasi fositip dengan kemampuan intelektual. Ketepatan meniru, mengumpulkan perbendaharaan kata-kata menyusun kalimat yang baik, dan memahami maksud perkataan orang lain sangat dipengaruhi oleh kemampuan kerja motorik dan kecerdasan seseorang.
d. Status sosial ekonomi keluarga
Rangsangan yang disediakan untuk ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yangszosial ekomomi tinggi berada dengan keluarga yang setatus sosial ekonominya rendah. Hal ini tampak dari perkembangan bahasa pada anak-anak yang hidup dari keluarga terdidik. Dengan kata lain, pendidikan dan setatus sosial ekonomi keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak.
e. Faktor kondisi fisik
Orang yang cacat dan terganggu kesehatannya, seperti bisu, tuli, gagap, atau organ suara tidak sempurna akan terhadap perkembangannya dalam bahasa. Orang yang tuli sejak lahir umumnya tidak mampu mengembangkan bahasanya.
4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa Terhadap Kemampuan Berpikir
Tingkat kemampuan berpikir sangat berpengaruh terhadapkemampuan bahasa. Demikian pula sebaiknya, orang yang kemampuan berpikir rendah akan mengalami kesulitan dalam menyusun kata-kata atau kalimat yang baik, logis, dan sistematis. Hal ini tentu saja akan menyulitkan mereka dalam berkomunikasi.
5. Implikasi Pengembangan kemampuan Bahasa Remaja Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Kelompok belajar berdiri dari siswa-siswi yang memiliki variasi bahasa yang berbeda-beda, baik kemampuan maupun polanya. Sehubungan dengan itu, dalam mengembangkan stratagi belajar mengbajar dibidangbahasa, guru perlu memfokus pada kemampuan dan keragaman bahasa anak. Anak diminta untuk melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajarn yang telah diberikan dengan kata kata yang disusun sendiri. Dengan cara ini, guru dapt melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa mereka. Kalimat atau cerita anakten tang isi pelajaran perlu diperkaya dan diperluas oleh agar mereka mampu menyusun cerita yanglebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajarinya dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tulisan, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan dan membentuk pola bahasa anak. Dalam penggunaan model ini, guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas, oleh karena itu, sarana pengembangan berbahasa, seperti buku bacaan, da, surat kabar, majalah dan lain lain hendaknya di sediakan di sekolah.
G. Perkembangan Emosi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)
Kehidupan anak itu penuh dengan dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Banyak-sedikitnya dorongan dan minat seseorang itu mendasari pengalaman emosionalnya. Apabila dorongan, keinginan atau minatnya dapat terpenuhi, anak cenderung memiliki perkembangan afeksi atau emosi yang sehat dan stabil. Dan demikian, ia dapat menikmati dan mengembangkan kehidupan sosialnya secara sehat pula. Selain itu, ia tidak terhambat oleh gejala gangguan emosi. Sebaliknya, jika dorongan dan keingiannya tidak dapat terpenuhi, disebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhinya ataupun karena kondisi lingkungan yang kurang menjuang, sngat dimungkinkan perkembangan emosionalnya itu akan mengalami gangguan.
1. Pengertian Emosi
Perilaku kita sehari-hari pada umumnya diwarnai oleh, perasaan-parasaan tertentu, seperti senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, atau sedih dan gembira. Perasaan yang terlalu menyertai perbuatan-parbuatan kita sehei-hari disebut sebagai warna afektif.warna afektif kadang-kadang kuat, adang-kadang lemah, atau perasaan separti itu dinamakan emosi (sartilo, 1982:59). Beberapa contoh emosi yang lainnya adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, malu, kecewa, benci.
Emosi dan perasaan adalah dua konsep yang berbeda, tetapi perbedaan keduanya tidak dapat dinyatakan secara tegas. Emosidan perasaan merupakan gejala emosionalyang secara kualitatif berkelanjutn, tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat, warna afektik dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi dapat pula disebut sebagai emosi. Minsaslnya, marah yang ditunjukan bentuk diam.Oleh karena itu, emosi dan perasaan tidak mudah untuk dibedakan.
Pada saat emosi, sering terjadi perubahan-perubahanpada fisik seseorang, seperti:
a. Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona
b. Peredaran darah bertambah cepat bila marah
c. Denyut jantung bertambanh cepat terkejut
d. Bernapas panjang bila kecewa
e. Pupil mata membesar bila marah
f. Air liur mengering bila takut atau tegang
g. Bulu roma berdiri bila takut
h. Pencernaan menjadi sakit atau mencret-mencret kalau tegang
i. Otot menjadi tegang atau bergetar (tremor)
j. Komposisi darah berubah dan kelenjar-keenjar aktif
2. Karakteristik Perkembangan Emosi
Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa saat ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar meningginya emosi disebabkan remaja berada di bawah tekanan sosial, dan selama masa kanak-kanak, ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Sebagian dari mereka memang mengalami ketidakstabilan emosi sebagai dampak dari penyusaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru.
a. Cinta/ kasih sayang
Ciri yang menonjol dalam kehidupan remaja adalah adanya perasaan untuk mencintai dan dicintai orang lain. Kapasitas untuk memberi sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima rasa cinta. Remaja tidak dapat hidup bahagia tanpa mendapatkan cinta kasih dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting penting walaupun kebutuhan-kebutuhan terhadap perasaan itu disembunyikan secara rapi.
b. Perasaan gembira
Orang umumnya dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman menyenangkan yang pernah dialami selama masa remaja. Rasa gembira muncul apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan menyenangkan.
c. Kemarahan dan permusuhan
Rasa marah dan permusuhan merupakan gejala emosional yang penting di antara emosi-emosi yang memainkan peranan nmenojol dalam perkembangan kepribadian remaja. Kita ketahui bahwa dicinta dan dicintai adalah gejala emosi yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian yang sehat.
d. Ketakutan dan cemburuan
Masa remaja telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang memengaruhi pasang surut rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu memeng telah teratasi, tetapi banyak pula yang masih tetap ada, banyak ketakutan baru yang muncul karena adanya kecemasan-kecemasan sejalan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
Sejumlah penelitian tentang emosi menunjukan bahwa perkembangan emosi remaja sangat dipengaruhi oleh faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 1960:266). Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lain dalam memengaruhi perkembangan emosi. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan berfikir kritis untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti dan menimbulkan emosi terarah pada sato objek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menghapal memengaruhi reaksi emosional, dengan demikian, remaja menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak memengeruhi merekan pada usia yang lebih muda.
Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi remaja. Metode yang menujang perkembangan emosi antara lain sebagai berikut.
a. Belajar coba-coba
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan kepuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa remaja awal dibandingkan masa sesudahnya.
b. Belajar dengan cara meniru
Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang yang diamati. Remaja yang suka ribut atau merasa populer di kalangan teman-temannya biasanya akan marah bila mendapat teguran gurunya.
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri
Anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Di sini anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya.
d. Belajar melalui pengodisian
Dengan metode ini objek, situasi yang mulainya gagal memancing reaksi emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, mengenal betapa tidak resionalnya reaksi mereka. Setelah melewati masa kanak-kanak, pengunaan metode pengondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
e. Belajar di bawah bimbingan dan pengawasan
Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadao rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.
Mendekati berakhirnya usia remaja berarti telah melewati banyak badai emosional, sehingga ia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya. Ia juga telah belajar dalam seni memyembuyikan perasaan-perasaannya. Halini berarti jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang secara spontan dan terbuka ia tampakkan.
Remaja tahu bahwa ada bahasa untuk menunjukan kemarahan secara terbuka. Ia harus diajarkan untuk tidak hanya menyembuyikan kemarahan, tetapi juga perlu takut terhadap rasa marah dan merasa bersalah apabila marah. Remaja telah mengalami rasa cinta dan dicinta. Orang tua dan guru hendaklah menyadari perubahan ekspresi pada anak /siswanya karena tidak berarti emosi tidak lagi berperan dalam kehidupan mereka. Ia tetap membutuhkan perangsangan-perangsang yang memadai untuk pengembangan pengalaman-pengalaman emosionalnya. Responsnya berbeda-beda terhadap apa yang sebelumnya dianggap ancaman atau rintangan cita-citanya. Pada akhirnya, ia perlu mempunyai kemampuan untuk memyesuaikan sikap dan perilaku dengan apa yang sedang terjadi padanya. Bertambahnya umur, pengetahuan dan pengalaman berpengaruh signifikan terhadap perubahan irama emosional remaja.
4. Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah laku
Perasaan takut atau marah dapat menyebabkan seseorang menjadi gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, jantung berdetak cepat, aliran darah/tekanan darah deras sehingga sistem pencernaan terganggu. Cairan pencernaan atau getah lambung terpengaruh oleh gangguan emosi yang menyenangkan dan releks berpungsi sebagai alat pembantu pencerna, sedangkan perasaan tidak enak atau tertekan menghambat atau mengganggupencernaan.
Diantara rangsangan yang dinikmatkan kegiatan kelenjar sekresi dari getah lambung adalah ketakutan-ketakutan yang akut atau kronis. Kegembiraan yang berlebihan, kecemasan, dan kekhawatiran menyebabkan menurunya kegiatan sistem pencernaan dan bisa juga menyebabkan sembelit. cara penyenbuhan yang efektif adalah menghilangkan penyebab ketegangan emosi.Radang pada lambung tidak dapat disembuhkan ,demikian pula didiare dan sembelit,jika faktor-faktor yang menyebabkan munculkan emosi tidak dihilangkan.
Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Seorang yang gagap sering dapat normal berbicara jika dalam keadaan relaks atau tenang. Namun, jika dia dihadapkan pada situasi-situasi yang menyebabkan kebingungan maka akan menunjukkan kegagapan.
Perilaku ketakutan,malu-malu atau agresif dapat disebabkan ketegangan emosi atau frustasi. Karena reaksi kita berbeda-beda terhadap orang. Seorang siswa bisa saja tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi guru, tetapi karena sesuatu yang terjadi pada situasi belajar di kelas. Jika ia merasa malu karena gagal dalam menjawab soal tes lisan, Akibatnya, ia mungkin menjadi takut ketika menghadapi tes tulisan. Akibatnya, ia memutuskan untuk membolos, atau melakukan kegiatan yang lebih buruk lagi, yaitu melarikan diri dari orangtua, guru, atau dari otoritas lain.
Perkembangan Peserta Didik
A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK
Menurut A.E Sinolungan (1997) Istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran fisik yang kuantitatif makin lama semakin besar atau panjang. Ada pun istilah perkembangan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahyan aspek psikologi dan social, sedangkan menurut Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel, dan C.P. Chalplin (2002), mengartikan
Hukum-hukum perkembangan
1. Hukum kesatuan organis
Menurut hukum ini anak adalah satu kesatuan organis, bukan suatu penjumlahan atau suatu kumpulan unsur yang berdiri sendiri. Pertumbuhan dan perkembangan adalah differensiasi atau pengkhususan dari totalitas pada unsur-unsur atau bagian-bagian baru, bukan kombinasi dari unsur-unsur atau bukan suatu kumpulan dari bagian-bagian.
2. Hukum tempo perkembangan
Menurut hukum ini, setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri. Artinya, ada anak yang mengalami perkembangan cepat, sedang, dan lambat.
3. Hukum irama
Hukum irama berlaku untuk setiap manusia, baik perkembangan jasmani maupun rohani tidak selalu dialami perlahan-lahan dengan urutan-urutan yang teratur, melainkan merupakan gelombang-gelombang besar dan kecil silih berganti.
4. Hukum masa peka
Masa peka adalah suatu masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar, dan peka akan pengaruh rangsangan yang datang. Menurut Maria Montessori asal Italia ini berpendapat bahwa masa peka merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan dikembangkan.
5. Hukum rekapitulasi
Menurut hackle asal jerman ini menyebut hukum ini hukum biogenetis. Dalam hukum rekapitulasi ini perkembangan jasmani individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya. Dengan kata lain, otogenese adalah rekapitulasi dari phylogenese. Otogenese adalah perkembangan individu sedangkan phylogenese adalah kehidupan nenek moyang suatu bangsa.
6. Hukum mempertahankan dan mengembangkan diri
Dalam diri anak terdapat hasrat dasar untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. Hasrat mempertahankan diri terlihat dalam bentuk-bentuk nafsu makan dan minum, menjaga keselamatan diri. Sedangkan hasrat pengembangan diri seperti hasrat ingin tahu, mengenal lingkungan, ingin bergerak, kegiatan bermain-main, dan sebagainya.
7. Hukum predistinasi
Menurut hukum predistinasi berarti betapapun sempurnanya pembawaan, bakat, dan sifat-sifat keturunan, betapapun baiknya lingkungan dan pemeliharaan anak, serta betapapun lengkapnya sarana dan sumber penghidupan, tetapi proses dan jalan perkembangan tidak akan berlangsung sebagaimana yang dikehendaki manusia seandainya nasib tidak membawanya demikian atau jika tidak di izinkan Allah.s
Proses perkembangan merupakan suatu evolusi yang secara umum adalah sama pada setiap anak. Perbedaan-perbedaan individual dimungkinkan terjadi karena faktor-faktor pembawaan, pengalaman dalam lingkungan, dan fakor laoinya, seperti iklim, sosiologis, dan ekonomis.
Setiap individu mengalami pertumbuhan fisik dan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, bahasa, bakat khusus, nilai, dan moral, serta sikap. Pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan yaitu:
1. Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan fisik manusia merupakan perubahan fisik dari kecil atau pendek menjadi besar dan panjang, yang prosesnya terjadi sejak lahir hingga dewasa.
a. Pertumbuhan sebelum lahir
Manusia dimulai dari proses pembuahan ( pertemuan sel telur dan sperma ) yang membentuk suatu sel kehidupan,yang yaitu embrio. Embrio yang telah berusia satu bulan berukuran sekitar setengah sentimeter. Pada umur dua bulan, ukuranya membesar menjadi dua setengah sentimeter yang disebut janin atau fetus. Satu bulan kemudian (kandungan telah berumur 3 bulan), janin trersebut telah terbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil.
Masa sebelum lahir merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan syaraf yang membentuk system yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin berakhir setelah kelahiran. Kelahiran merupakan kematangan biologis dan jaringan syaraf masing-masing telah mampu berfungsi secara mandiri.
b. Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan dari pertumbuhan sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Dalam tahun pertama pertumbuhannya, ukuran panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang semula, sedangkan berat badannya bertamabah sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu dari pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia.
Pertumbuhan dan perkembangan fungsi biologis setiap orang memiliki pola urutan yang teratur. Ahli psikologi menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan fisik anak pada umumnya memiliki pola yang sama dan menunjukkan keteraturan. Secara umum pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi empat periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepar, dan dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat.
2. Perkembangan intelek
Intelek atau daya piker seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena daya pikir menunjukkan fungsi otak, kemampuan intelektual dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif seseorang mengikuti tahapan berikut ini:
a. Masa sensori motoric (0-2.5 tahun)
Masa ini adalah masa ketika bayi menggunakan system penginderaan dan aktifitas motoric untuk mengenal lingkungannya.
b. Masa pra-operasional (2 – 7 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak dalam menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep.
c. Masa konkreto pra-rasional (7 – 11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkrit dan mulai mengembangkan tiga macam operasi berpikir yaitu identifikasi, negasi, dan reprokasi.
d. Masa operasional (11 – dewasa)
Pada tahap ini ia mampu mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan.
3. Perkembangan emosional
Emosi atau perasaan merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki oleh manusia. Pada awal pertumbuhannya yang dibutuhkan bayi adalah kebutuhan primer, yaitu makan, minum dan kehangatan tubuh. Apabila tidak terpenuhi bayi akan menangis. Jadi emosi merupakan perasaan yang disertai oleh perubahan atau perilaku fisik.
4. Perkembangan sosial
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya setiap individu tidak dapat berdiri sendiri tapi memerlukan bantuan individu lainnya. Pada umumnya setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebaya yang sama jenis kelaminnya. Selanjutnya manusia mengenal kehidupan bersama, berkeluarga, dan bermasyarakat, atau berkehidupan social.
5. Perkembangan bahasa
Fungsi pokok bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan dengan sesama.bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak,dan suara untuk menyampaikan isi pikiran dan perasaan kepada orang lain
Berbicara adalah bahasa lisan. Dalam perkembangan awal berbahasa lisan, bayi menyampaikan isi pikiran atau perasaannya dengan menangis,tersenyum, atau ocehan.iamenangis atau mungkin menjerit jika tidak senang atau sakit dan mengoceh atau meraba jika sedang senang.syarat itu semakin lama semakin jelas hingga ia mampu menirukan bunyi – bunyi bahasa yang di dengarnya.
Perkembangan lebih lanjut, yang telah berusia 6 – 9 bulan, ia mulai berkomunikasi dengan satu kata atau dua kata, seperti mama, maem dan sebagainya.
6. Bakat khusus
Bakat adalah kemampuan khusus yang di miliki oleh setiap individu yang memerlukan rangsangan atau latihan agar berkembang dengan baik.
7. Sikap, nilai, dan moral
Bloom (woofolk dan nicolich, 1984:390)mengemukakan bahwa tujuan akhir proses belajar, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif ), penguasaan nilai dan sikap (efektif), dan penguasaan,keterampilan (psikomotorik).masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral karena dalam kehidupannya belum di kenal hierarki nilai dan suara hati,serta perilakunya belum di bimbing oleh nilai – nilai moral, sedangkan menurut Santrock, 1995 perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain.
Semakin tumbuh berkembang fisik dan psikisnya,ia mulai memperkenalkan terhadap nilai – nilai di tunjukkan hal – hal yang boleh dan yang tidak boleh.menurut piaget, pada awalnya, pengenalan nilai dan pola tindakan itu masih bersifat paksaan,dan anak belum mengetahui maknanya. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur yang melibatkan berbagai unsur yang saling berpengaruh satu sama lain.
Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan karakteristik perseorangan atau yang berkaitan dengan perbedaan individual sifat orang yang satu berbeda dengan sifat orang lain.
1. Bidang-bidang perbedaan individual
Umur kronologis sebagai faktor yang mewakili tingkat kematangan seseorang hendaknya dilihat sebagai aspek perbedaan individual. Faktor kecakapan khusus perlu dipertimbangkan, terutama dalam mempelajari hal-hal yang memerlukan kemampuan mental yang tinggi.
a. Perbedaan individual peserta didik
Perkembangan bagi setiap anak sebagai individu mempunyai sifat yang unik.saufrock dan yussen menyatakan sebagai berikut, “Eas us develops some other individual, and like individual, like some other invidual, and like no other individual”.
Maksudnya bahwa tiap-tiap invidu berkembang dengan cara tertentu, seperti individu lain, dan seperti tidak ada invividu yang lain.
Garry 1963 ( oxendine, 1984: 317) mengelompokan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut ini.
a. Perbedaan fisik, seperti usia, berat badan, jenis kelamin, pendengaran, dan kemampuan bertindak.
b. Perbedaan social,seperti status ekonomi, agama, hubungan keluarga dan suku.
c. Perbedaan kepribadian, seperti watak, minat, motif, dan sikap.
d. Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
e. Perbedaan kecakapan disekolah
Perbedaan fisik bukan saja terbatas pada ciri-ciri yang dapat diamati dengan panca indra,seperti tinggi badan warna kulit, jenis kelamin, nada suara, dan bau keringat. Gejala yang dapat diamati bahwa mereka menjadi lebih atau kurang dalam bidang tertentu dibandingkan dengan yang lainya.
a. Perbedaan kognitif
Proses belajar mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang positif yang direncanakan untuk mengembangkan faktor dasar yang dimiliki seseorang. Menurut blom, proses belajar, baik disekolah maupun diluar sekolah menghasilkan tiga kemampuan yang dikenal sebagai taxonomi blom, yaitu kognitif, efektif, dan psikomotorik. Menurut Myers (1996) Kognitif adalah istilah umum yang mencakup segenap mode pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, dan penalaran.sedangkan menurut chaplin (2002), dijelaskan bahwa kogniif adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan, mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai.
b. Perbedaan dalam kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemapuan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu untuk menyatakan pikiran dan perasaanya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang bermakna dan sistematis. Kemampuan berbahasa ini berbeda antara satu individu dan individu lainya, serta sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan. Faktor lain yang juga penting adalah faktor fisik, terutama organ berbicara.
c. Perbedaan dalam kecakapan motoric
Kecakapan motoric atau kemampuan psikomotorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi kerja saraf motoric yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan berbagai kegiatan.
Semakin dewasa seseorang, semakin matang pula fungsi-fungsi fisiknya. Kemampuan motoric dipengaruhi oleh kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemamouan berfikir seseorang. Karena kematangan pertumbuha fisik dan berfikir setiap orang berbeda-beda.
d. Perbedaan dalam latar belakang
Latar belakang keluarga,baik dilihat dari segi sosio ekonomi maupun social kultural adalah berbeda-beda.perbedaab latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar atau menghambat kemampuan atau prestasi seseorang. Pengalamn belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berpretasi dalam situasi belajar yang disajikan. Minat dan sikapnya terhadap mata pelajaran tertentu, kecakapan atau kemauan untuk berkonsentrasi pada bahan pelajaran, dan kebiasaan-kebiasaan belajrar merupakan faktor-faktor perbedaan individual diantara para siswa.
e. Perbedaan bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa atau dimiliki seseorang sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkembang secara baik apabila mendapatkan rangsangan dan latihan secara tepat.sebaliknya,bakat itu tidak akan berkembang jika lingkungan tidak memberi kesempatan, dalam arti tidak ada rangsangan dan latihan yang baik. Dalam hal pengembangan bakat ini, makna pendidikan menjadi sangat penting artinya.
f. Perbedaan dalam kesiapan belajar
Perbedaan individual tidak hanya disebabkan oleh keragaman, kematangan, tetapi juga oleh keragaman latar belakang sebelunya. Anak berusia 6 tahun yang memasuki sekolah dasar kelas satu mungkin berbeda satu, dua, bahkan 3 tahun dalam tingkat kesiapan untuk mengambil manfaat dari pendidikan formal.
2. Perbedaan individual yang unik
Setiap invidu adalah khas/ unik artinya, ia memiliki perbedaan dengan lainya. Perbedaan itu bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berfikir dan cara merespon atau mempelajari hal baru.
a. Otak sebagai pusat belajar
Otak manusia merupakan kumpulan masa protoplasma yang paling kompleks yang terdapat dalam alam semesta. Otak dapat berfungsi aktif dan reaktif kurang lebih 100 tahun. Dan otak sebagai pusat belajar sehingga harus dijaga agar terhindar dari kerusakan.
Menurut Maclean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain ( dalam deporter dan henarcki,2001). Bagian pertama yaitu batang otak, bagian kedua system limbik, dan bagian ketiga neokorteks. Batang otak bertanggung jawab atas fungsi motoric-sensorik pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra.
System limbik berfungsi menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. System ini juga mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperature, kimia tubuh, metabolissme, dan istem kekebalan. System limbik, panel control, dalam penggunaan informasi, dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman, sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan kepemikir dalam otak yaitu neokorteks. Neokorteks tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia.
b. Karakteristik cara belajar
Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola, dan menyampaikan informasi, cara belajar individu dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai oleh prilaku tertentu.
Ciri-ciri prilaku individu dengan karakteristik cara belajar yang disebutkan diatas, menurut pendapat deporter dan hemacki ( 2001 )
1. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar visual
Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri prilaku sebagai berikut:
a. Rapi dan teratur
b. Berbicara dengan cepat
c. Mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik
d. Teliti dan rinci
e. Mementingkan penampilan
f. Medah mengingat apa yang dilihat dari pada apa yang didengar
g. Mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual
h. Pembaca yang cepat dan tekun
i. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
j. Sulit menerima intruksi verbal
k. Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain dll
2. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar auditorial
Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandao dengan ciri-ciri prilaku seperti dibawah ini:
a. Sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja
b. Mudah tertganggu oleh keributan atau suara brisik
c. Lebih senang mendengarkan dari pada membaca
d. Suka membaca dengan suara keras
e. Lebih suka humor
f. Berbicara sangat fasih
g. Kesulitan jika menulis sesuatu
h. Senang berbicara, diskusi,dan menjelaskan
i. Suka seni music dll
3. Karakteristik prilaku individu dengan cara belajar kinestetik
Individu yang memiliki kemampuan cara belajar kinestetik dengan baik ditandai oleh :
a. Berbicara dengan perlahan
b. Menanggapi perhatian fisik
c. Banyak gerak fisik
d. Memiliki perkembangan otot yang baik
e. Banyak menggunakan bahasa tubuh
f. Belajar dengan praktik langsung
Butuh dengan artikel ini? Silahkan Download :





Komentar Terakhir